Dalam momentum perayaan Dies Natalis ke-51, Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat (STPM) Santa Ursula Ende menegaskan kembali identitasnya sebagai institusi yang aktif menghidupkan wacana kritis di tengah masyarakat. Bertempat di Aula SMPK Santa Ursula Ende pada Sabtu, 4 Maret 2023, kampus ini menyelenggarakan seminar nasional bertema “Pemilu dan Ekspektasi Rakyat: Demokratisasi, Partisipasi, dan Seleksi Kepemimpinan Berkualitas.”
Kegiatan ini bukan sekadar bagian dari perayaan ulang tahun, melainkan sebuah forum intelektual yang mencoba membongkar paradoks antara demokrasi prosedural dan kenyataan sosial-politik di lapangan. STPM menghadirkan beragam narasumber lintas latar belakang untuk merangsang diskusi publik yang mendalam dan solutif.
Seminar ini menampilkan tokoh nasional dan lokal seperti Anggota DPD RI Angelius Wake Kako, M.Si, pengamat sosial-politik Elias Cima, S.Sos, MA, Komisioner Bawaslu Ende Basilius Wena, SH, dan anggota KPUD Ende Izmir Riyaldi, S.Pd, dengan moderator Richard Toulwala, S.Fil, M.Si.
Para narasumber menyampaikan pandangan kritis mengenai realitas pemilu di Indonesia yang kerap kali hanya menekankan pada partisipasi formal, namun belum menjamin lahirnya pemimpin berkualitas. Isu seperti transaksionalisme politik, oligarki elektoral, dan minimnya pendidikan politik masyarakat menjadi sorotan utama.
Dalam sambutan pembuka yang dibacakan oleh Suster Yosefina Itu, OSU, mewakili Ketua STPM Yulita Eme, S.Sos, M.Si, ditegaskan bahwa pemilu seharusnya menjadi medium untuk menyuarakan harapan rakyat, bukan sekadar ritus lima tahunan.
“Pemilu adalah tonggak demokrasi, namun yang kita perlukan lebih dari itu adalah pemimpin yang berpihak pada rakyat, bukan pada keluarga atau golongan,” ungkap Suster Yosefina.
Ia juga menyinggung bahwa meskipun sistem pemilu langsung dianggap sebagai kemajuan dalam demokrasi, realitas di lapangan memperlihatkan penyimpangan nilai, di mana pemimpin terpilih tidak selalu merepresentasikan kepentingan publik.
Berbeda dengan banyak institusi pendidikan yang menjauhi isu politik, STPM Santa Ursula menegaskan komitmennya sebagai kampus yang justru terlibat aktif dalam pembentukan kesadaran politik kritis. Seminar ini menjadi wujud nyata bagaimana pendidikan tinggi seharusnya ikut andil dalam mendidik masyarakat agar tidak hanya menjadi pemilih pasif, tetapi juga pengawas dan pengarah jalannya demokrasi.
“Kami ingin membentuk mahasiswa dan masyarakat yang melek politik dan tidak sekadar ikut arus, tapi mampu berpikir kritis dan etis,” ujar salah satu dosen peserta seminar.
Pesan penting yang mengemuka dari seminar ini adalah bahwa partisipasi politik bukan sekadar memilih, melainkan proses panjang yang menuntut pemahaman, kepekaan sosial, dan keberanian bersikap. Pemilu harus dilihat sebagai alat transformasi sosial, bukan hanya kontestasi kekuasaan.
Melalui kegiatan ini, STPM Santa Ursula mengajak semua pihak, terutama kaum muda, untuk tidak apatis terhadap politik dan mulai memikirkan ulang kriteria pemimpin: bukan siapa yang populer, tetapi siapa yang benar-benar layak.

