SEKOLAH TINGGI PEMBANGUNAN MASYARAKAT SANTA URSULA

Hari Kebangkitan Nasional ke-118, Mahasiswa STPM Santa Ursula Soroti Tantangan Generasi Muda

Makna kebangkitan nasional bagi generasi muda tidak lagi semata-mata berbicara tentang perjuangan melawan penjajahan. Di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin cepat, perjuangan itu hadir dalam bentuk yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: melawan sikap apatis, kemalasan, individualisme, serta keberanian untuk mengambil peran di tengah masyarakat.

Gagasan tersebut menjadi bagian dari diskusi kebangsaan mahasiswa dalam rangka Peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-118 yang diselenggarakan di Pro Dua RRI Ende, Rabu (20/5/2026). Mengusung tema “Dari Kampus untuk Indonesia: Cara Anak Muda Menyalakan Semangat Kebangkitan”, diskusi menghadirkan dua aktivis mahasiswa dari STPM Santa Ursula Ende, yakni Aldo Meze, Ketua BEM STPM Santa Ursula Ende, dan Anastasia Sargaling, Ketua HMPS Ilmu Pemerintahan.

Kehadiran keduanya menjadi ruang untuk melihat kembali semangat kebangkitan nasional dari perspektif mahasiswa. Kampus tidak hanya dipandang sebagai ruang pembelajaran akademik, tetapi juga sebagai tempat generasi muda membangun kesadaran sosial, mengembangkan kepemimpinan, dan mempersiapkan diri untuk mengambil bagian dalam kehidupan masyarakat.

Dalam diskusi tersebut, Anastasia Sargaling menyoroti bahwa salah satu tantangan terbesar generasi muda saat ini justru berasal dari dalam diri sendiri. Kemalasan, sikap apatis, dan kecenderungan untuk terlalu berorientasi pada diri sendiri dapat membuat generasi muda kehilangan kepekaan terhadap persoalan di lingkungan sekitar.

Menurutnya, semangat kebangkitan pada masa kini perlu diwujudkan melalui keberanian untuk keluar dari zona nyaman dan membangun kepedulian terhadap lingkungan.

“Kebangkitan hari ini adalah bagaimana anak muda berani keluar dari zona nyaman dan peduli lingkungan,” katanya.

Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa semangat kebangkitan nasional dapat dimulai dari tindakan-tindakan sederhana, seperti membangun kepedulian, berani menyampaikan gagasan, terlibat dalam organisasi, serta mengambil bagian dalam menyelesaikan persoalan sosial di lingkungan masing-masing.

Sementara itu, Aldo Meze melihat perkembangan teknologi sebagai bagian penting dari tantangan sekaligus peluang generasi muda. Kemajuan digital telah membuka ruang yang luas bagi anak muda untuk memperoleh informasi, membangun jejaring, mengembangkan kreativitas, hingga menciptakan peluang ekonomi.

Namun, perkembangan tersebut menurutnya perlu disikapi secara kritis agar teknologi tidak justru melemahkan daya juang generasi muda.

Mahasiswa dituntut tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memahami berbagai dinamika yang berkembang di sekitarnya. Perubahan dalam media sosial, ekonomi, hingga dinamika geopolitik menjadi bagian dari realitas yang perlu dipahami oleh generasi muda agar mampu melihat persoalan bangsa secara lebih luas.

Diskusi juga membawa pengalaman kedua narasumber dalam memimpin organisasi mahasiswa. Dari pengalaman tersebut, pragmatisme menjadi salah satu tantangan yang cukup nyata dalam kehidupan mahasiswa.

Keterlibatan dalam organisasi dan kegiatan sosial terkadang masih diukur berdasarkan manfaat langsung bagi diri sendiri. Padahal, proses berorganisasi juga menjadi ruang pembelajaran untuk membangun tanggung jawab, kemampuan bekerja sama, kepemimpinan, serta kepedulian terhadap kepentingan bersama.

Anastasia menjelaskan bahwa dalam menjalankan organisasi, dirinya berupaya menciptakan ruang dialog yang memungkinkan setiap anggota menyampaikan gagasan dan merasa dihargai.

“Setiap ide harus diberi tempat karena dari sana tumbuh keberanian dan rasa percaya diri,” ujarnya.

Pendekatan tersebut menjadi salah satu cara untuk mendorong mahasiswa agar tidak hanya menjadi peserta dalam organisasi, tetapi juga berani mengambil peran dan mengembangkan potensi yang dimiliki.

Hal serupa dilakukan Aldo melalui pemetaan minat anggota. Pendekatan ini digunakan untuk membantu mahasiswa mengenali potensi dirinya sekaligus memberikan ruang agar mereka berani tampil, berkontribusi, dan mengasah kemampuan melalui pengalaman berorganisasi.

Diskusi di Pro Dua RRI Ende tersebut pada akhirnya memperlihatkan bahwa kebangkitan nasional merupakan gagasan yang terus relevan, meskipun bentuk tantangannya berubah mengikuti perkembangan zaman.

Bagi generasi muda, kebangkitan dapat dimulai dari keberanian untuk berpikir kritis, membangun integritas, menjaga kejujuran, menjalankan tanggung jawab, serta memiliki kepedulian terhadap persoalan sosial di sekitarnya.

Dari ruang-ruang kampus, semangat tersebut dapat dikembangkan menjadi gerakan yang lebih luas melalui inovasi, kegiatan sosial, organisasi mahasiswa, dan berbagai bentuk kontribusi bagi masyarakat.

Kehadiran Aldo Meze dan Anastasia Sargaling dalam diskusi kebangsaan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa mahasiswa STPM Santa Ursula Ende memiliki ruang untuk menyuarakan gagasan dan refleksi tentang masa depan generasi muda dan bangsa.

Semangat kebangkitan, dengan demikian, tidak berhenti pada peringatan setiap 20 Mei. Ia perlu terus dinyalakan melalui tindakan nyata—dimulai dari lingkungan kampus, berkembang ke masyarakat, dan pada akhirnya menjadi kontribusi generasi muda bagi Indonesia.