Myanmar, Ukraina, Rusia dan Daya Pukau Kekuasaan Pada Manusia

Rully Raki – Dosen STPM

Sudah satu tahun lebih lebih konflik Myanmar berlangsung. Kudeta yang menyebabkan konflik dan perang saudara itu pun sudah merenggut banyak korban. Selain pihak militer, masyarakat sipil menjadi pihak yang paling banyak korbannya. Entah itu yang luka, hilang, mati atau pun trauma-trauma fisik dan psikis menjadi harga yang mesti dibayar dari konflik itu.

Seorang aktivis Myamnar, Thinzar S. Yi, menuturkan bagaimana kudeta rezim militer sungguh menjadi tragedi berdarah yang memilukan. Banyak teman seperjuangannya dan keluarganya ditangkap dan disiksa. Mereka menjadi korban dari perang saudara itu (metrotvnes.com, 1/2/2022). Bahkan di bulan Desember tahun 2021 yang lalu, di negara bagain Kayah, tepatnya di desa Mo So, terdapat banyak penduduk desa yang dibantai dengan sadis, tidak peduli pria, wanita, tua atau muda (dw.com).

Belum lagi api konflik Myanmar padam, beberapa waktu lalu di belahan bumi lain, situasi genting menyelimuti Eropa Timur. Ukraina dan Rusia berada di ambang perang. Rusia bahkan sudah mengirimkan pasukan dan menggelar latihan militer di masing-masing ke perbatasan. Keterlibat Amerika dan NATO di dalamnya bahkan sanggup membuatnya menjadi perang dunia. Untuk apakah dan untuk siapakah semua perang itu?

Entah itu konflik di Myanmar ataupun konflik Ukraina versus Rusia, semuanya punya kesamaan. Kesamaan yang pertama adalah semua yang berkonflik hampir seluruhnya berakar dari bangsa dan budaya yang sama. Myanmar atau Burma merupakan bangsa di Asia kecil yang sebelumnya merupakan koloni Inggris yang merdeka di tahun 1948. Sementara itu, Ukraina dan Rusia berasal dari bangsa Slavia dalam kesatuan era Kerajaan Keiven Rus abad 9 sampai 13, di era monarki Kerajaan Rusia sampai era republik Uni Soviet.

Kesamaan kedua adalah konflik yang terjadi berporos sekitar arena kekuasaan. Pada konteks Myanmar, perebutan kekuasaan oleh junta militer dari pemerintah sipil pada Februari 2021 yang lalu, telah berujung pada terjadi perang saudara. Militer tidak mempercayai sipil dalam penyelenggaraan kekuasaan. Selanjutnya, tindak kekerasan, pembunuhan dan pembantaian menjadi litani penderitaan warga sipil Myanmar.

Pada pihak lain, di Eropa Timur, pecahnya Uni Soviet di awal tahun 90-an akibat kebijakan Glasnot dan Perestroika, telah memerdekakan negara-negara yang bergabung dalam Uni Soviet sejak tahun 1920 di bawah Vladmir Lenin. Ukraina pun menjadi negara yang merdeka. Namun, manuver kekuasaan Vladimir Putin perlahan ingin mengembalikan kejayaan Rusia di masa Soviet. Aneksasi semenanjung Crimea tahun 2014 dari Ukraina melalui mekanisme referendum menjadi salah satu contohnya (Fauziah, 2019).

Konflik ataupun perang antara saudara sedarah atau pun sebangsa bukan hal baru dalam sejarah manusia. Sejak zaman Kain dan Habel, seperti di dalam cerita Kitab Suci, manusia sudah tega merenggut nyawa sesamanya. Epos Mahabharata, cukup kompehensif menarasikannya. Baratayudha menjadi arena pemusnahan Pandawa atas sudara-saudaranya Kurawa. Dalam Bratayudha, sungguh tampak kekuasaan yang dibungkus ego, dendam, amarah sanggup membutakan mata hati dan daya kasih manusia. Akibatnya, manusia rela untuk mengorbankan sesama manusia yang lain (Pendit, 2003).

Ungkapan dalam filsafat manusia bahwa manusia adalah sumur tanpa dasar dan misteri bagi dirinya dan orang lain, cukup berkaitan dengan hal ini. Ungkapan ini cukup menggambarkan manusia tidak pernah konsisten seperti mesin. Manusia tidak hanya konsisten menjadi makhluk yang mencintai dan merawat. Ia juga bisa menjadi makhluk yang membenci dan menghabisi. Thomas Hobbes membahasakannya sebagai Homo homini lupus, manusia sebagai serigala bagai sesamanya dalam De Cive (1651).

Dalam potensi membenci dan menghabisi, daya pukau kekuasaan menjadikannya potensi itu semakin kuat. Seperti kata Nietzsche bahwa manusia selalu mempunyai kecenderungan untuk berkuasa. Sayangnya relasi antara manusia dengan kekuasan itu tidak selalu berada dalam hubungan simetris. Manusia tidak selalu dapat mengontrol kekusaannya secara penuh. Ini berarti manusia tidak selalu mampu menggunakan kekuasaannya nalar sehat logika pun sesuai dengan hati nuraninya. Selalu ada potensi bahwa kekuasaan sanggup mengenggam dan membutakan manusia (Mali, 2009).

Di sini muncul dua sisi kekuasan. Sisi yang pertama ialah kekuasaan sanggup menjadi sarana untuk menciptakan kebaikan ketika ia berada dalam kontrol nurani dan nalar sehat logika. Namun di sisi lain, daya pukau kekuasaan mempunyai potensi sehingga mampu membawa manusia ke sisi gelap dan menguasainya. Potensi ini semakin besar ketika ia terjerumus dalam sikap mementingkan diri (ego) serta mudah disulut amarah-dendam.

Daya pukau kekuasaan yang muncul dalam konteks ini sangat mudah menyulut api konflik, membakar situasi atau bahkah menghilangkan satu bangsa. Tragedi genosida, seperti Holocaust era perang dunia kedua atau pemusnahan etnis Kurdi di Irak tahun 1980 cukup menjadi bukti valid atas kencederungan ini. Sampai di sini muncul pertanyaan: adakah manusia harus benar-benar sempurna untuk bisa berkuasa, sehingga itu menjadi baik dan dan ia tidak dibutakan oleh daya pukau kekuasaan yang mendorongnya ke sisi gelap dari kekuasaan?

Filosofi kuno Cina sudah cukup baik menggambarkan tentang hal ini. Tidak ada kebaikan tanpa kehadiran yang kurang baik ataupun sebaliknya, pengakuan akan hadirnya yang kurang baik selalu dalam perbandingan dengan adanya yang baik. ini menjadi lingkaran yang menciptakan harmoni dalam hidup manusia, Yin dan Yang (Fang, 2021). Di samping sisi kekuasaan yang mampu menciptakan kebaikan, selalu ada potensi munculnya sisi kekuasaan yang membutakan dan memusnahkan manusia.

Di titik ini manusia dihadapkan pada pilihan apakah ingin berada pada sisi baik dengan sedikit kekurangan atau sebaliknya. Di sini, selain kualitas diri yang dibentuk dalam proses yang panjang untuk menjadi pribadi yang utuh, yang mampu melihat agenda-agenda besar untuk kebaikan bersama, kencenderungan untuk menguasai tentu dapat menjadi indikator dominan ke mana manusia harus memilih.

Pilihan pertama ialah menjadi pribadi ataupun pemimpin yang matang dan utuh, akan menggunakan kekuasaan yang ia miliki untuk menjalankan banyak agenda besar untuk kepentingan bersama. Dalam koridor ini, ia telah selesai dengan sikap ego, serakah atau pun buta akan kekaayaan duniawi sehingga sanggup menggunakan kekusaannya, meskipun tidak sempurna sama sekali untuk menciptakan kebaikan bagi banyak orang. Dalam konteks ini, perebutan kekuasaan bahkan sampai menciptakan perang saudara dapat direduksi bahkan dieliminasi.

Pilihan kedua, ialah rusaknya dan musnahnya manusia maupun alam di sekitarnya kerena manusia memilih menggunakan kekuasaanya sebagai alat untuk memenuhi keinginan diri, yang pada saat bersamaan dibutakan oleh daya pukau kekuasaan itu sendiri. Akhirnya kekuasaan itu menguasai manusia sehingga menjajah dan menginstrumentalkan sesamanya demi tujuan dan cita-cita narsis pribadi, atau untuk melampiaskan amarah dan dendam yang pernah terjadi. Di sini manusia pasti akan menjadi serigala bagi manusia lain. Atau manusia lain sekedar menjadi bidak-bidak catur yang bisa dimainkan sesuai dengan naluri dan keinginan sang penguasa.

Tidak perlu menjadi Budha terlebih dahulu untuk menjadi jeli memilih antara pilihan yang pertama atau kedua. Pribadi yang bijak seperti sang Budha pun tidak jatuh dari langit. Ia berawal dari Pangeran Sidharta yang berproses melalui banyak pengalaman dan cobaan untuk tampil menjadi pribadi yang utuh dan mengetahui apa yang perlu dilakukan untuk kebaikan manusia. Namun di sisi lain, jika kerasnya hati menetapkan kita untuk menetapkan pada pilihan yang kedua, maka suasana istana sepi, sebagaimana yang dialami oleh Yudhistira setelah Bratayuda karena banyak yang telah mati di medan perang, akan menjadi konsekuensinya.

Jika demikian maka, litani penderitaan konflik di Myanmar, ancaman perang dari Rusia versus Ukraina ataupun sejarah genosida yang sudah terjadi sebelumnya dalam sejarah dunia, akan menjadi episode yang akan terus berulang. Ia mungkin akan terjadi dan berulang baik itu di banyak wilayah di dunia ini, ataupun mungkin saja di daerah ataupun di negara dan bangsa kita nanti. Semua itu bergantung pada pilahan dan sikap manusia terhadap kekuasaan dan daya pukaunya. Sebab, kita adalah manusia yang bebas memilih dan membuat sejarah, karena bertemu dengan pilihan dan membuat sejarah sudah menjadi eksistensi bawaan dari manusia, sebagaimana kata Jean Paul Sartre.

Tulisan ini telah terbit pada lamanĀ THE COLUMNIST